|
S13
|
Kerusakan pada OSD (On
Screen Display).
Periksa kerusakan pada OSD
ini dimulai pada pin V-Sync (Vertikal Sinkronisasi) dan H-Sync (Horizontal
Sinkronisasi) pada IC program. Pin ini biasanya berdekatan. Umpamanya, V-Sync
pin 26 berarti H-Sync-nya pin 27. V-Sync jika ditelusuri akan terhubung ke
arah IC Penguat Vertikal, sementara H-Sync jika ditelusuri akan terhubung ke
arah FBT.
|
|
S14
|
Kerusakan seperti ini dapat
terjadi pada IC utama, tapi umumnya terjadi pada rangkaian pendukungnya,
seperti pada kontrol warna dari IC program, crystal warna, dan komponen lain
sekitar bagian warna.
Kerusakan pada bagian
kontrol warna dapat ditelusuri dari IC program pin color control. Caranya
dengan mengukur tegangan dari IC program yang sampai ke IC utama pin color
control input. Tegangan ini bergerak (dapat) diatur sesuai dengan tegangan
yang dikeluarkan oleh IC program atau dapat langsung dihubungkan dengan
tegangan catu RGB dengan sebuah resistor untuk membuktikan apakah yang rusak
pada bagian kontrol atau pada bagian warna IC utama.
|
|
S15
|
Kerusakan seperti ini juga
dapat terjadi pada IC utama, tapi umumnya terjadi pada rangkain pendukungnya,
seperti pada kontrol volume, mute dari IC program, serta komponen lain
sekitar bagian suara dan penguat suara.
Kerusakan pada bagian
kontrol volume dan mute dapat ditelusuri dari IC program pin volume kontrol.
Caranya dengan mengukur tegangan dari IC program yang sampai ke IC utama pin
volume control input. Tegangan ini berubah jika pengaturan volume ditambah
atau diturunkan, dapat dilihat dengan mengamati pergerakan jarum penunjuk
alat ukur sesuai dengan tegangan yang dikeluarkan oleh IC program.
Untuk membuktikan apakah
yang rusak pada bagian kontrol atau pada bagian warna IC Utama, dapat
langsung dihubungkan dengan tegangan catu bagian volume (5 V dc) ke pin
volume kontrol Utama dengan sebuah resistor. Dengan demikian, diharapkan
tegangan kontrol dalam keadaan maksimal (volume suara maksimal).
|
|
S16
|
Kerusakan seperti ini sering
terjadi pada televisi yang terkena petir (ada sebagian jenis televisi yang
power-supply-nya rusak). Kerusakan seperti ini dapat berasal dari rangkaian
IC program pin ident, dapat juga dari IC Utama, sekitar AFT atau pada bagian
sinkronisasi.
Kerusakan seperti iniagak
sulit dilacak karena yang rusak adalah komponen kecil, seperti resistor atau
kapasitor yang berubah nilai. Jadi, umumnya kerusakan seperti ini bukan pada
IC program atau pada IC Utama, melainkan pada komponen pendukung pada bagian
yang rusak.
|
|
S17
|
Kerusakan seperti ini dapat
terjadi jika rangkaian horizontal pada IC utama tidak rusak (bekerja), tapi
bagian gambar dan suara mengalami kerusakan. Kerusakan seperti ini bisa
terjadi pada IC utama atau pada rangkaian sebelumnya (input), dapat juga pada
rangkaian setelahnya (outputnya). untuk mengetahuinya, diperlukan kejelian
dalam melokalisasi kerusakan, baik dengan cara potong maupun dengan cara
injeksi. Cara Injeksi adalah menggunakan sinyal injektor atau multitester
posisi capasity meter (pengukuran kapasitas kapasitor). Fasilitas ini
biasanya ada pada multitester sanwa tipe CX-605. Dengan menginjeksi sinyal
input, outputnya diamati. Jika yang diinjeksi pada bagian video, hasilnya
dapat dilihat pada layar televisi yaitu berupa perubahan gambar. Namun, jika
yang diinjeksi sinyal input suara, pada speaker akan terdengan suara
"bib". jika pada bagian input gambar dan suara injeksi secara
bergantian (tidak sekaligus), kemudian ada reaksi pada outputnya, dapat
diambil simpulan sementara bahwa jalur yang dilaluinya (IC utama) bekerja.
|
|
S18
|
Kerusakan bukan pada blok IC
program/utama, periksa kemungkinan kerusakan pada bagian lain.
|
|
S19
|
Pastikan tombol Power On,
dan steker terpasang dengan benar.
|
|
S2
|
Sebenarnya kerusakan bukan
pada blok Power Supply. Kemungkinan, pada rangkaian horizontal, vertikal, dan
suara.
Potong setiap jalur yang
menghubungkannya ke rangkain tersebut, lalu ukur tegangannya. Jika tegangan
normal, pasanglah satu-satu, lalu ukur lagi hingga ditemui ke jalur mana
tegangan tersebut hilang dan lanjutkan dengan memeriksa komponen.
|
|
S20
|
Pastikan steker terpasang
dengan benar.
|
|
S21
|
Periksa bagian utama gambar
dan bagian output gambar pada IC utama, ukur tegangan yang diterima dengan
tester, kemungkinan kerusakan ada pada bagian ini.
|
|
S22
|
Pasang antena dengan benar
dan pastikan kabelnya tersambung pada TV
|
|
S23
|
Jika tegangan UHF tidak ada,
biasanya masalah dari IC program pin UHF; dapat mengakibatkan televisi tidak
dapa menerima channel yang menggunakan saluran UHF (seperti Trans, Indosiar,
RCTI, SCTV, Metro, dll).
|
|
S24
|
Jika suara dan gambar tidak
bersih, gangguan dapat terjadi pada antena, kabel antena, konektor antena,
pengaturan AGC, dan tuner itu sendiri. Antena sangat besar pengaruhnya
terhadap kualitas gambar dan suara. Langkah yang dapat dilakukan adalah
mengatur antena ke arah yang tepat. Jika gambar masih tidak bersih, cobalah
atur AGC adjustment, kemudian lakukan pencarian ulang. Seandainya gambar dan
suara masih juga tidak bersih, cobalah ganti tuner dengan tipe yang sama,
lalu bandingkan hasilnya dengan tuner awal.
|
|
S25
|
Jika sinyal gambar yang
diterima mula-mula baik (suara dan gambar bersih), pelan-pelan berubah, dan
lama kelamaan gambar jadi hilang, kerusakan seperti ini terjadi akibat AFT
atau voltage tuning yang tidak stabil. Untuk jenis televisi yang menggunakan
AFT tank (spoel aft yang dapat di trimer), jika AFT tank-nya sudah
diputar-putar, dapat menimbulkan kerusakan seperti ini. Ciri-ciri kerusakan
seperti ini adalah ketika dilakukan pencarian (search), sinyal yang diterima
tidak mau disimpan.
|
|
S26
|
Kerusakan bukan pada bagian
tuner, periksa kemungkinan kerusakan pada bagian lain.
|
|
S27
|
Putar posisi antena, ubah
posisi sampai suara ada, jika masih tidak ada, cek volume dan pastikan tombol
mute tidak di mute. Jika masih tidak ada, cek channel yang lain. Jika masih
tidak ada suara, masalah bukan pada bagian tunner, periksa kemungkinan
kerusakan bagian lain.
|
|
S28
|
Jika tegangannya 0 V dc
(tidak ada sama sekali), gambar dan suara tidak ada. Jika tegangannya
berubah-ubah (cat: bukan pada saat search), hal itu mengakibatkan gambarnya
berlari-lari (sinyal berubah-ubah). Jika tegangan sumbernya tidak sampai 33 V
dc, sebagian saluran tidak didapatkan (seharusnya di dapat 15 channel,
ternyata hanya 5 channel). Pada tuner, umumnya yang selalu bermasalah adalah
sekitar bagian VT ini. Untuk yang lainnya, sangat jaran.
|
|
S29
|
Jika tegangan catu daya pada
tuner tidak ada (0 V dc), sudah dipastikan gambar dan suara pada televisi
tidak ada. Tegangan kurang mengakibatkan gambar buram. Tegangan berubah-ubah
dapat mengakibatkan sinyal beubah-ubah. Kerusakan pada AGC dapat
mengakibatkan gambar tidak mau bersih (banyak lebahnya), tapi kerusakan AGC
sangat jarang terjadi pada tuner. Biasanya setelan AGC (AGC adjustment)
kurang pas
|
|
S3
|
Kerusakan pada blok Power
Supply (bagian osilator).
Potong jalur output tegangan
ke rangkaian lain dengan mencabut solderan pada jumper atau kaki komponen.
Lalu, ukur tegangan output. Jika ada, berarti kerusakan terjadi pada
rangkaian di depannya. Jika tidak pada bagian osilator power, periksa
resistor dengan tahanan diatas 100k Ohm sebagai catu osilator.
|
|
S30
|
Jika suara tidak bersih,
sedangkan volumenya bisa dibesarkan dan dikecilkan, kerusakan terjadi pada
komponen pendukung pada bagian suara di IC utama. Hal ini juga dapat terjadi
karena antena kurang tepat. Namun, bisa juga pengaturan sistem suara bukan
pada sistem PAL/BG. Pengaturan ini dapat dilakukan di remote control. Setelah
pengetahuan di remote control dan antena sesuai, tapi suara tetap tidak
bersih, dapat dilakukan pengukuran komponen yang berhubungan dengan bagian
suara pada IC utama.
|
|
S31
|
Jika suara tidak ada sama
sekali, kemungkinan kerusakan ada pada IC penguat suara. Sangat perlu
diperhatikan apakah kontrol mute dalam posisi off dan apakah speaker baik.
Cara memastikan apakah IC penguat suara rusak adalah dengan melepaskan R618,
kemudian sentuh (lebih baik menggunakan sinyal injektor atau dapat diambil sinyal
dari tape atau VCD) pada kaki C610 atau kaki IC penguat suara secara
keseluruhan (khusus jika disentuh tangan). Jika terdengar suara nada pada
speaker, berarti IC penguat suara dalam kondisi baik (bekerja). Dapat juga
dipastikan dengan menghubungkan R618 ke amplifier. Jika tidak ada suara,
berarti yang rusak IC penguat suara. Jika ada suara, berarti yang rusak
adalah rangkaian di belakangnya. Khusus untuk kerusakan yang disebabkan ident
pada IC program, biasanya kerusakan yang diakibatkan oleh sambaran petir ini
ditandai dengan terkelupasnya jalur pada PCB. Komponen yang selalu rusak
adalah kapasitor dengan kapasitas sangat kecil atau transistor yang
berhubungan dengan pin ident pada IC program. Mencari kerusakan seperti ini
sangat diperlukan ketelitian. Tegangan catu kurang (tidak stabil) dapat juga
menyebabkan kerusakan seperti ini.
|
|
S32
|
Jika suara tidak mau
dibesarkan atau dikecilkan, kerusakan terjadi pada IC program. Kerusakan
dapat terjadi pada IC prorgram itu sendiri, dapat juga pada komponen pendukungnya,
terutama resistor. Dari skema rangkaian di atas, kontrol volume pada IC
program terletak pada pin 30; dipasang sebuah resistor R770 dengan hambatan
sebesar 100 Ohm. Jika jalur ini ditelusuri, masih banyak ditemukan komponen
pendukung, seperti transistor dan diode yang juga dapat mempengaruhi fungsi
volume kontrol.
|
|
S33
|
Apakah anda mengalami
gangguan pendengaran? anda sudah sampai tahap ini, seharusnya suara bisa
terdengar sebagaimana mestinya.
|
|
S34
|
Suara tidak ada masalah sama
sekali. suara terdegar sebagaimana mestinya
|
|
S35
|
Catu V cc H pada IC utama,
H-out dari IC utama, transistor H-driver, Catu H-driver, HDT (horizontal
driver transformator), transistor penguat horizontal dan FBT (fly back
transformator). Horizontal dan FBT (Fly Back Transformator). Mengatasi
kerusakan dengan cara mengukur tegangan dan komponen yang berhubungan dengan
bagian-bagian tersebut.
|
|
S36
|
Heater pada CRT, tegangan
catu 6 V ac, tegangan screen (G2) ada dan dapat dinaikan atau diturunkan. Ini
berarti bagian horizontal bekerja dengan baik. Kemungkinan kerusakan pada R
6,8 Ohm dari FBT ke pin heater CRT. Heater pada CRT dapat dipastikan baik
atau rusak dengan menggunakan multitester x 1 Ohm terukur kira-kira 1-4 Ohm
pin H1 dan H2
|
|
S37
|
Kemungkinan yang rusak
adalah yoke bagian horizontal (sebelah dalam yang menyentuh badan CRT).
Rusaknya biasanya terbakar. Jika tidak parah, kawat email yang telah terbakar
dapat dipisahkan dan diisolasi, kemudian dipasang lagi. Jika sangat parah,
ganti saja.
|
|
S38
|
Komponen yang berhubungan
dengan yoke horizontal ditandai dengan kabel warna merah dan biru yang sering
rusak, kapasitor dengan kapasitas (0.05-0.1) mf.
|
|
S39
|
Tegangan catu untuk FBT
tidak cukup, kapasitor di kolektor transistor penguat horizontal berubah
nilai, bisa juga kapasitor yang berhubungan dengan yoke horizontal (jika
bekas, yoke diganti. Namun, bawaan (original) jarang sekali).
|
|
S4
|
Kerusakan bukan pada blok
Power Supply, periksa kemungkinan kerusakan pada bagian lainnya.
|
|
S40
|
Sinkronisasi horizontal pada
IC utama hingga ke FBT, komponen yang sering rusak, resistor dari IC utama ke
FBT, tapi dapat juga IC utamanya. Namun, kemungkinannya sangat kecil.
|
|
S41
|
Setelan screen nya (G2
adjustment) terlalu tinggi. Jika direndahkan beberapa saat, kemudian blanking
lagi, berarti potensiometernya yang disatukan dengan FBT rusak, dapat
dimodifikasi atau ganti FBT langsung. Jika tegangan G2 normal, periksa elco
pada catu 180 V dc untuk RGB.
|
|
S42
|
Kapasitor di kolektor
transistor penguat horizontal, FBT, yoke. Jika keadaan ini terjadi, gantilah
transistor penguat horizontal dengan transistor yang mempunyai arus besar
dengan harapan saat menguji tidak langsung rusak dan masih sempat melakukan
pengukuran guna memastikan komponen yang rusak.
|
|
S43
|
Kerusakan bukan pada bagian
horizontal, periksa kemungkinan kerusakan pada bagian lain.
|
|
S44
|
Bagian yang rusak dapat pada
catu osilator vertikal di IC utama, osilator vertikal pada IC utama, catu IC
penguat vertikal, dan IC penguat vertikal
|
|
S45
|
Catu IC penguat vertikal
|
|
S46
|
Kapasitor tapis pada penguat
vertikal (biasanya elco 100 microfarad - 330 microfarad).
|
|
S47
|
Penguatan vertikal (tapi
bukan IC vertikal) mendapatkan adjustment vertikal atau pengatur penguatan
vertikal, bisa juga elco kapasitor.
|
|
S48
|
Sinkronisasi vertikal (yang
sering rusak resistor dari IC utama pin sinkronisasi input atau output).
|
|
S49
|
Kerusakan bukan pada bagian
vertikal, periksa kemungkinan kerusakan pada bagian lain.
|
|
S5
|
Kerusakan pada bagian
Osilator Power Supply.
Lepaskan semua jalur output
dari power supply ke rangkaian lainnya agar tidak merusak komponen lainnya,
kemudian periksa elektrolitnya.
|
|
S50
|
Jika gambar pada televisi
tidak fokus (terlihat snow atau bintik lebah yang besar-besar), mengaturnya
dapat dengan memutar potensioner untuk fokus pada FBT. Jika tetap tidak ada
perubahan, yang rusak adalah soket fokus (lingkaran merah putus-putus).
Gejalanya dapat dilihat pada kawat konduktor: pada pin fokus ada korosi warna
hijau. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa soket fokus rusak sehingga
tegangan yang dikirim FBT hilang karena pengarbonan (terjadi hambatan akibat
kotoran korosi).
|
|
S51
|
Terang gelapnya cahaya pada
layar sangat bergantung pada tegangan yang dikeluarkan FBT untuk screen. Jika
tegangan pada screen di bawah 100 V dc, layar akan gelap. Pada screen,
biasanya dipasang sebuah resistor dan kapasitor (garis persegi merah
putus-putus). Jika kapasitor ini short, tegangan pada screen akan turun dan
dapat mengakibatkan layar gelap walaupun potensiometer pada FBT diputar
(adjust) maksimum.
|
|
S52
|
Catu 180 V dc digunakan
sebagai penguat video yang terangkum dalam sinyal RGB (Red, Green, Blue).
Catu 180 V dc bersumber dari FBT (tegangan output) melalui sebuah resistor
fuse dan sebuah diode penyearah tegangan serta ditapis oleh sebuah kapasitor
elektrolit dengan kapasitas sekira 22 mf/250 V. Nilai tegangan 180 V dc
inilah yang dimanfaatkan untuk catu RGB. jika salah satu dari tiga komponen
tersebut rusak (resistor fuse, diode, dan kapasitor elektrolit), gambar
menjadi bergaris-garis buku (kecerahannya tidak dapat dikontrol). Hal ini
terjadi karena catu untuk RGB tidak mencukupi. Umumnya, komponen yang sangat
rentan terhadap kerusakan pada catu RGB 180 V dc adalah kapasitor elektrolit
tersebut.
|
|
S53
|
Untuk keadaan normal,
kerusakan heater pada CRT jarang terjadi. Yang sering mengalami kerusakan
adalah solderan yang berhubungan dengan heater dan resistor yang dipasang
pada heater. Namun, apabila terjadi masalah pada heater, akibatnya sangat
fatal, layar televisi akan gelap.
|
|
S54
|
Gangguan sinyal merah (R)
dari skema di samping dapat ditelusuri dari IC utama pin 19 (2,2 V dc),
resistor 902 (100 Ohm), transistor V 902 (C 2688). Outputnya melalui konektor
dengan sebuah resistor 908 (2,7 k Ohm) dan resistor beban untuk catu (12 k
Ohm/3 watt) Jika terjadi masalah dengan sinyal merah, hanya komponen-komponen
tersebutlah yang diperiksa kondisinya.
|
|
S55
|
Gangguan sinyal hijau (G)
dari skema dapat ditelusuri dari IC utama pin 20 (2,2 V dc), resistor 912
(100 Ohm), transistor V 912 (C 2688). Outputnya melalui kolektor dengan
sebuah resistor 918 (2,7 k Ohm) dan resistor beban 917 untuk catu (12 k Ohm /
3 watt).
|
|
S56
|
Gangguan sinyal biru (B)
dapat ditelusuri dari IC utama pin 21 (2,2 V dc), resistor 922 (100 Ohm),
transistor V 922 (C 2688). Outputnya melalui kolektor dengan sebuah resistor
928 (2,7 k Ohm) dan resistor beban 927 untuk catu (12 k Ohm/3 watt).
|
|
S57
|
Menulusuri sinyal yang
bermasalah dimulai dari output RGB pada IC utama: dapat dilihat dari gambar
input CRT. Tegangan RGB pada input CRT dalam keadaan normal sekira 115 V dc.
Jika tegangan RGB lebih dari 115 V dc atau mendekati nilai tegangan catu RGB
(180 V dc), layar akan gelap. Ini berarti, transistor penguat RGB tidak
bekerja karena sinyal input pada setiap kaki basisnya tidak ada.
|
|
S58
|
Dalam mengganti CRT, yang
sangat perlu diperhatikan adalah ukuran CRT pengganti harus benar-benar sama
agar ketika dipasang mendapatkan hasil yang memuaskan. Ukuran CRT yang
dimaksud adalah ukuran diagonal layar, ukuran diameter leher layar, dan letak
kaki (heater, fokus, G2 dan pin RGB). Khusus untuk letak kaki, bisa saja
dimodifikasi, tentunya dngan sangat hati-hati agar tidak terjadi kekeliruan,
seperti kaki heater tertukar dengan kaki catu RGB. Hal ini akan langsung
merusak lensa atau kaki fokus tertukar dengan G2. Jika ukuran leher CRT tidak
sama, yoke dan purity magnet pada CRT pengganti harus dibawa serta
|
|
S59
|
kerusakan bukan pada bagian
CRT, periksa kemungkinan kerusakan pada bagian lain.
|
Wednesday, January 8, 2014
Contoh Laporan Skripsi
0 Response to "LANJUTAN SISTEM PAKAR PADA TELEVISI RUSAK "
Post a Comment